Wafatnya Kiai Ali Maksum dan Tragedi Dirman, Jomblo yang Tak Tahu Diri

0
564
Kiai Ali yang tengah sakit dibantu santrinya untuk melaksanakan Sholat Jumat

Setelah Kiai Ali Maksum tidak menjabat sebagai Rois Aam PBNU pada tahun 1984 dan digantikan oleh KH. Ahmad Shiddiq, Kiai Ali masih menduduki jabatan penting di struktural PBNU yaitu menjadi mustasyar PBNU bersama delapan ulama sepuh lainnya, (1) KHR. As’ad Syamsul Arifin; (2) KH. Masykur; (3) KH. Syaifudin Zuhri; (4) KH. Makrus Ali; (5) KH. Anwar Musaddad; (6) H. Munasir; (7) KH. Idham Cholid; (8) H. Imron Rosyadi. Pada usia 70 tahun, Kiai Ali menjadi tokoh sepuh yang mempunyai pengaruh besar, baik di kalangan masyarakat, ulama, pesantren, maupun Nahdlatul Ulama. Kiai Ali masih aktif mengajar dan berdakwah, seperti saat menghadiri dan mengisi pengajian Haul KH. Bisri Musthofa, ayahanda KH. Musthofa Bisri (Gus Mus).

Peristiwa nahas menimpa Kiai Ali di Rembang. Pada malam hari tanggal 08 November 1986, Kiai Ali hadir pada Haul KH. Bisri Musthofa di Ponpes Roudhhotul Tholibin, Leteh, Rembang. Kiai Ali yang mengenakan batik berwarna merah malam itu memberikan pengajian umum dalam acara Haul tersebut. Setelah acara selesai, Kiai Ali kemudian beristirahat sejenak di rumah KH. Cholil Bisri untuk makan dan beramah tamah. Sebenarnya Kiai Ali juga menunggu jemputan untuk menuju tujuan berikutnya, yaitu acara Haul ayahandanya, KH. Maksum Ahmad di Soditan, Lasem. Saat mobil jemputan sudah datang, Kiai Ali yang ditemani Fadholi Yasin, Ali Hanafiyah, dan Hilal kemudian pamit dengan Kiai Cholil Bisri dan menuju mobil. Saat tengah berjalan, tiba-tiba terdengar suara “klothak” dari belakang yang kemudian menyebabkan tubuh Kiai Ali condong dan ditahan oleh Fadholi agar tidak terjatuh.

Rombongan Kiai Ali baru sadar jika Kiai Ali diserang oleh Dirman dengan linggis yang dibungkus dengan kertas koran. Kiai Ali mendapatkan dua kali pukulan, pada bagian kepala dan perutnya. Sebenarnya Dirman merencanakan serangan bertubi-tubi pada Kiai Ali, namun upaya serangan berikutnya dapat ditangkis oleh Mukholis. Serangan itu menyebabkan Kiai Ali mengalami retak tulang kepala dan sobek pada ubun-ubun kepala. Setelah kejadian, Kiai Ali masih dalam keadaan sadar sambil berucap:

“….Oalah… Dirman cah ora dong…” yang berarti “Oalah Dirman anak yang tidak paham”

Kondisi kepala Kiai Ali terlihat menahan rasa sakit sambil memegangi kepalanya yang mengucurkan darah. Menurut Berita Acara Pemeriksaan (BAP) Polres Rembang, kejadian nahas ini terjadi tepatnya pada Sabtu, 8 November 1986 pukul 00.15 WIB.

Siapa sebenarnya Dirman?

Dirman yang mempunyai nama lengkap Ahmad Dirman ialah mahasiswa Fisipol UGM yang di-DO (drop out) dan santri Krapyak. Sepeninggal ayahnya, Dirman mengalami gangguan mental yang menyebabkan dirinya sering lepas kontrol. Dalam upaya memperbaiki kejiwaan Dirman, Ibunya yang merupakan pedagang di Pasar Lasem mengirim Dirman ke Krapyak dengan harapan kembali normal dan dapat menerima keadaan akan keterpurukan ekonomi keluarga. Selama di Krapyak, Dirman dikenal sebagai santri yang santun, pendiam, dan aktif dalam organisasi Resimen Mahasiswa (Menwa) UGM. Dirman mendapatkan perhatian khusus dari Kiai Ali. Hal ini dimungkinkan karena Dirman berasal dari Lasem dan merupakan tetangga Kiai Ali. Atas asuhan Kiai Ali, Dirman dapat kembali normal hingga kecerdasan intelektualnya membaik dan dapat melanjutkan pendidikannya di Fisipol, UGM. Dirman juga kerap menulis artikel dan mengirimkannya ke harian Kedaulatan Rakyat, meskipun tidak pernah ada satupun artikel yang dimuat.

Merasa mendapatkan perhatian khusus dari Kiai Ali, Dirman yang seorang jomblo pun tumbuh benih cinta dengan putri Kiai Al yang bernama Ida Rufaida. Namun cinta Dirman ternyata bertepuk sebelah tangan dan tak kunjung mendapatkan balasan dari Ida Rufaida. Kejiwaan Dirman pun mulai tergoncang karena tersulut api cinta yang menggelora tapi tak pernah berbalas.

Bagi seorang jomblo seperti Dirman, mencintai putri seorang kiai bukanlah dosa, boleh-boleh saja. Namun sebagai santri juga harus memiliki etika dan sadar diri “saya ini siapa?” Kalaupun mempunyai rasa tidaklah perlu bersemangat dan mengumbarnya tanpa adab di hadapan kiai. Cukuplah dipendam di dalam hati, dirawat, hingga menemukan momentum yang pas untuk mengutarakannya dengan baik-baik dengan sang kiai. Kalaupun tidak mendapatkan ridho dari sang kiai, santri harus mawas diri bahwa dirinya memang belum pantas menjadi mantu sang kiai. Adab demikian ternyata tidak ada pada diri Dirman. Penolakan dari Ida Rufaida membuat Dirman patah hati, buta hati, dan kestabilan jiwanya terganggu. Dirman menganggap biang kerok dari penolakan cintanya kepada Ida Rufaida ialah Kiai Ali.

Atas pertimbangan kondisi Dirman yang justru semakin memburuk dan meresahkan warga, Kiai Ali kemudian dengan sangat berat hati memulangkan Dirman dari Krapyak. Setelah tiga bulan kepulangannya ke Lasem, Kiai Ali mendapatkan laporan dari tetangganya di Lasem bahwa Dirman telah menulis kata-kata yang bersifat ancaman kepada Kiai Ali di tembok rumahnya yang bertuliskan: “Matinya Pak Ali Maksum nanti di tangan saya…”

Sebagai guru dari Dirman, Kiai Ali masih tidak percaya dengan kejadian yang menimpanya ternyata dilakukan oleh santrinya sendiri. Kiai Ali justru kasihan dan prihatin sekali dengan Dirman yang pernah ditolongnya. Lebih-lebih Kiai Ali merasa prihatin dengan Ibunya yang tertekan atas perilaku anaknya, Dirman. Bukannya marah, Kiai Ali menerima musibah yang menimpanya dengan tabah  seraya memaafkan Dirman atas semua perlakuan kejinya. Kiai Ali juga berbalas kebaikan untuk keluarga Dirman dengan memberikan berbagai bingkisan

“Ya Allah, maafkan dia, anak yang tidak tahu… Dia sebenarnya anak yang berbakat”

Wafatnya Kiai Ali

Setelah kejadian yang dialami Kiai Ali, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Kiai Ali tercatat empat kali dirawat di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta. Keadaan semakin memburuk saat Kiai Ali didiagnosis terkena penyakit jantung. Dalam kondisi yang semakin melemah, Kiai Ali tetap aktif berdakwah, mengajar, dan berorganisasi untuk Nahdlatul Ulama. Hal ini ditunjukkan salah satunya dengan hadirnya Kiai Ali dan memberikan pengajian di Pondok Pesantren Darurrohman, Jakarta pada awal tahun 1988. Pondok Pesantren Krapyak di bawah asuhan Kiai Ali juga mendapatkan kepercayaan untuk menjadi tuan rumah Muktamar ke-28 Nahdlatul Ulama yang rencananya akan dilangsungkan pada 25–27 November 1989. Kiai Ali dengan kondisi yang sangat terbatas tetap bersemangat mempersiapkan pelaksanaan Muktamar. Kiai Ali menunjuk putra sulungnya, KH. Atabik Ali untuk menggantikan dirinya sebagai “tuan rumah” Muktamar NU ke-28 di Krapyak.

Tepat sehari setelah penutupan Muktamar NU, Selasa 28 November 1989, kondisi kesehatan Kiai Ali semakin menurun. Keadaan Kiai Ali sangat kritis pada subuh dini hari, tepatnya pada Kamis 30 November 1989. Pihak keluarga kemudian membawa Kiai Ali ke RSUP dr. Sardjito dan dirawat secara intensif di ruang ICCU karena mengalami komplikasi jantung dan paru-paru. Pada Kamis 7 Desember 1989 tepatnya setelah azan Maghrib, Kiai Ali menghembuskan nafas terakhir di usianya ke-74 di RSUP dr. Sardjito, Yogyakarta.

Pesan dari Tragedi Dirman

Wafatnya Kiai Ali tidak bisa lepas dari tindakan keji Dirman saat di Rembang. Bagi penulis, Dirman yang seorang jomblo tidak selayaknya melakukan tindakan tersebut pada guru yang berjasa besar dalam hidupnya, Kiai Ali. Cinta pada putri kiai boleh-boleh saja, namun tetap menjunjung tinggi etika dan adab sebagai santri. Ridho kiai adalah yang utama di atas segalanya. Kalaupun tidak mendapatkan ridho, santri harus mawas diri bahwa dirinya memang belum pantas menjadi mantu sang kiai.

Tulisan ini ditulis ulang dari Buku Biografi KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren, dan NU yang ditulis oleh Ahmad Athoillah. Jika menghendaki memiliki buku ini, klik di sini.

Buku Biografi KH. Ali Maksum: Ulama, Pesantren, dan NU

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here