Sebuah Pengalaman, Anosmia Bukan Corona

1
317
pengalaman anormis

Hallo sobat semua, kali ini aku akan sharing sebuah pengalaman yang benar-benar terjadi pada diriku sekitar sebulan yang lalu. Pengalaman ini menurutku penting untuk ku bagikan sebagai media edukasi sekaligus sebagai tempatku menitipkan memori jika suatu hari ini ku ambil lagi. Aku hanya ingin mengatakan bahwa anosmia bukan Corona.

Kisah ini bermula saat Krapyak sedang heboh-hebohnya dan menjadi sorotan media seluruh Indonesia. Ya, tentu semuanya masih ingat betul. Pondok Krapyak menjadi pemberitaan media cetak maupun online pada 6 November lalu, saat ada sejumlah santri yang diketahui postif Covid-19 setelah dilakukan tes swab. Bahkan sampai saat ini jejak digital pemberitaan ini masih bisa ditemukan di internet. Namun hal yang bikin aku geram dari seluruh media ini adalah, tak ada satupun dari mereka mereka yang memberitakan angka kesembuhan kami, sama sekali. Memang bagi mereka berita ini tidak akan sama larisnya dengan kemunculan klaster pondok krapyak. Oke, bukan di situ poin yang ingin ku ceritakan.

Munculnya Gejala Anosmia

Minggu (8/11), Dua hari setelah seluruh media menghujani Krapyak dengan pemberitaannya, kami pembimbing asrama saat itu ada semacam syukuran makan-makan di Pantai Depok. Seperti menjadi sebuah tradisi, seafood masakan Mas Agus Sumilir memang selalu menggoda kami untuk makan besar. Saat ini ada satu kawan berkata, “Ada bau apa ya ini, kok amis banget?” Hmm… aku hanya diam sambil mengiyakan saja apa perkataannya. Namun dalam hati ku berkata, “Sempruul… aku padahal ga cium bau apapun.” Iya, pada saat itu memang salah satu gejala corona yang sedang hits di kalangan Krapyak adalah anosmia atau hilangnya indera penciuman. Masih heran dengan hilangnya penciumanku, ku coba lagi untuk mencium seluruh hidangan seafood yang telah disajikan di meja. Ternyata, masih saja tidak tercium bau apapun. Fiks, aku kehilangan penciumanku alias anosmia.

Sadar Diri

Senin (9/11), Aku yang sudah merasa anosmia segera sadar diri bahwa aku bisa jadi positif Corona dan harus segera menjauhkan diri dari orang-orang sekitarku. Pasalnya, aku punya banyak komunitas kehidupan saat itu, (1) Komunitas asrama dan pesantren, tempatku lebih banyak menghabiskan waktu daripada di rumah; (2) Komunitas laboratorium anorganik, tempatku menyelesaikan penelitian tugas akhir; (3) Komunitas kantor, tempat dimana aku ikut membantu kerja Abah Hilmy.

Siang itu, sepulang dari gagalnya aku mengurus SKCK di Polres Bantul yang penuh sesak antrean abdi negara CPNS, aku memeriksakan diriku ke Puskesmas Jetis. Aku diarahkan ke Poli Batuk yang saat Corona diletakkan luar bangunan, tentu demi kebaikan. Ku jelaskan gejalaku dengan sejelas-jelasnya: “Bu, aku kehilangan indera penciumanku sudah 2-3 hari. Namun gejala lainnya tidak ada sama sekali, seperti batuk, pilek, ataupun sesak napas. Soal nafsu makan, memang sedikit menurun Bu.” Lalu petugas Puskesmas menawariku untuk rapid test. Tanpa banyak alasan, aku langsung mengiyakan saja. FYI, aku datang ke Puskesmas memang ingin tahu bahwa diriku positif atau tidak.

Lebih Baik Mengisolasi Diri

Petugas puskesmas menginformasikan bahwa hasil rapid test-ku reaktif dan akan segera dijadwalkan Tes Swab. Mendengar hasil itu, aku sama sekali tidak kaget karena aku sudah menduga diriku bakal positif corona. Sebenarnya aku sendiri tidak pernah kontak dengan pasien positif, sehingga tidak pernah masuk dalam radar tracing. Aku disarankan untuk mengisolasi diri sampai hasil Tes Swab keluar. Ok baiklah. Sepulang dari Puskesmas, siang harinya aku langsung mendapatkan kabar dari dr. Dian Kumalasari bahwa aku dijadwalkan Tes Swab Rabu dan Kamis, 11-12 November di Rumah Sakit Lapangan Khusus Covid (RSLKC) Bambanglipuro. Mendapati hasil rapid-ku reaktif, aku segera menginformasikan ke orang-orang rumah agar bisa disikapi bersama dengan baik. Sampai pada kesimpulan, aku lebih baik diisolasi sementara di rumah sendiri secara terpisah sampai hasil swab-ku negatif. Selama menjalani isolasi mandiri, indera penciumanku pun masih tak berfungsi seperti sedia kala. Sepenjang hidup, rasanya baru kali ini aku menderita anosmia atau hilang indera penciuman yang bukan karena hidung tersumbat.

Tes Swab Pertamaku

Rabu (11/11), hari yang ku tunggu-tunggu telah tiba. Hari ini mungkin juga hari yang ditunggu oleh seluruh warga Indonesia Raya untuk merayakan Hari Belanja Online Nasional 11.11, wkwk. Ku awali pagi dengan sarapan, mandi, dan siap-siap dengan pakaian rapi. Estimasi perjalanan rumah-RSLKC Bambanglipuro hanya 22 menit. Ok lah. Sesampainya di lokasi pukul 9 pagi, ku cek namaku apakah benar sudah terdaftar. FYI, setiap harinya RS yang menjadi rujukan Covid di Bantul ini melakukan Tes Swab hasil rujukan puskesmas maupun hasil tracing. Saat menunggu antrian panggilan, aku sempatkan ngobrol dengan mereka yang juga bakal Tes Swab. Sebagian dari mereka justru lebih banyak merupakan hasil tracing, artinya Ia pernah kontak dengan orang yang dinyatakan positif. Ada juga orang yang Tes Swab karena tidak terima 3 kali hasil rapid-nya selalu reaktif, sedangkan Ia harus segera pergi ke luar kota dengan pesawat.

Halaman depan RSLKC Bambanglipuro (Dokrpi)
Ruang pemeriksaan RSLKC Bambanglipuro (Dokrpi)
Ruang pengambilan sampel RSLKC Bambanglipuro (Dokrpi)

Saat namaku dipanggil, dengan pedenya aku masuk karena sudah biasa menghadapi situasi pengambilan sampel sewaktu penerimaan santri di Krapyak. Aku diberi 2 bandel kertas, 1 kit alat sampling swab, dan 2 botol wadah sampel darah. Aku masuk ke ruangan swab. Pengambilan sampel lendir di hidung kanan dan pangkal mulut berjalan lancar. Segera aku disuruh bergeser ke pengambilan sampel darah di tangan kiriku. Selesai keduanya, kebetulan sedang ada riset dari UGM dengan identifikasi sampel nafas menggunakan alat GeNose. Alat ini disebutkan dapat mendeteksi Covid-19 hanya dalam 80 detik menggunakan sampel nafas. Kami pasien yang melakukan Tes Swab secara otomatis juga menyumbangkan data penelitian untuk uji alat E-Nose. Aku sendiri senang dengan hasil karya penelitian Tim Peneliti UGM dan secara sukarela ikut menyumbangkan data bagi mereka. Setelah itu, aku menuju meja wawancara dan kusampaikan semua keluhanku apa adanya tanpa ada yang ditutup-tutupi. Akhir kata, aku harus kembali lagi besok Kamis (12/11) untuk pengambilan sampel lendiri kedua kalinya.

Hasil Tes Swabku

Minggu (15/11), pagi menjelang siang aku mendapatkan pesan WhatsApp dari dr. Dian (Puskesmas Jetis) yang menginformasikan hasil Tes Swab-ku negatif. Alhamdulillah, ku sampaikan terima kasihku kepada Puskesmas Jetis yang telah memberikan pendampingan selama proses isolasi mandiri, meskipun secara daring. Senin (16/11), aku kembali lagi ke Puskesmas Jetis untuk meminta bukti fisik Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Swab. Sebenarnya aku ingin juga melihat hasil lab.-nya, tetapi karena data ada di RSLKC Bambanglipura, jadi Puskesmas pun hanya diberikan informasi pasien rujukannya positif/negatif. Mengetahui hasilku negatif tetapi penciuman tak kunjung sembuh, aku inisiatif minta rujukan pemeriksaan ke dokter spesialis THT, PKU Muhammadiyah Bantul.

Agar tidak berlama-lama, Senin sore (16/11) aku langsung datang ke RS untuk memeriksakan diriku. Sebelum diperiksa, sudah ku jelaskan bahwa aku habis Tes Swab dan dinyatakan negatif.

Ruang Klinik THT RS PKU Muhammadiyah Bantul

Alhasil saat diperiksa dr. Rizky (spesialis THT), Ia terlihat lebih santai dan tanpa kekhawatiran sama sekali meskipun menghadapi pasien anosmia. Ia mengatakan bahwa anosmia ini biasa saja mas dan bisa jadi disebabkan adanya infeksi pada saluran pernafasan yang disebabkan pilek berkepanjangan. Ia juga mengatakan bahwa gejala-gejala Covid-19 memang sangat umum, seperti demam, pilek, hilangnya nafsu makan, sesak nafas, anosmia, dll. Semua gejala itu jangan semerta-merta diasosiasikan dengan positif covid-19 agar tidak menimbulkan khawatir berlebihan.

Akhir kata, aku hanya ingin mengatakan bahwa hilangnya indera penciuman (anosmia) tidak bisa selalu diasosiasikan dengan positif corona. Aku menderita anosmia kurang lebih 3 minggu. Semoga pengalaman ini memberikan edukasi pada kita bahwa anosmia bukan corona. Semoga kita beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan. Aamiin.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here